Powered By Blogger

Selasa, 05 Juni 2012

diskriminasi


 ekonomi
Sejak saat itu, etnis Cina di Malaysia menguasai perdagangan di Malaysia sekaligus menguasai sebagian besar kekayaan negara.[1] Sedangkan etnis Melayu sebagai penduduk asli Malaysia tetap miskin. Hal ini yang menjadi pemicu terjadinya konflik etnis di Malaysia pada 13 Mei 1969 antara etnis Cina dan etnis Melayu.[2] Konflik etnis tersebut merupakan refleksi dari ketimpangan kekayaan antara etnis Cina dan etnis Melayu. Etnis Melayu yang merasa sebagai penduduk asli tidak terima akan adanya dominasi ekonomi etnis Cina di Malaysia sampai akhirnya terjadilah insiden 13 Mei 1969.

Agama
 Meski jumlahnya terus bertambah, komunitas Muslim Eropa masih menemui banyak kendala dalam berintegrasi dengan masyakarat Eropa. Kendala terbesar adalah diskriminasi terhadap komunitas Muslim karena latar belakang agama mereka. Untuk itu, OSI merekomendasikan pemerintahan di Eropa untuk lebih meningkatkan upaya mengikis persoalan diskriminasi terhadap warga minoritas Muslim.

Budaya
Gambaran kasar tentang orang dayak secara umum, Orang Dayak adalah masyarakat tradisional dan mempunyai sifat pemalu terhadap
pendatang. Tidak jarang ane jumpai masyarakat Dayak yang lari bersembunyi dan hanya berani mengintip dari balik papan dinding rumahnya bila melihat orang asing datang mendekat.

Namun, masyarakat Dayak mempunyai sistem kekerabatan dan persatuan yang kuat antar masyarakat Dayak di seluruh pulau Kalimantan (termasuk Dayak di wilayah Malaysia).

politik
Sebagai contoh kasusnya adalah pendiskriminasian suku atau etnik Cina atau Tionghoa yang tinggal, hidup, da tumbuh berkembang di Indonesia. Hal ini terjadi pada masa pemerintahan Orde Lama dan Orde Baru. Misalnya orang Tionghoa di Indonesia bersama dengan orang Arab, India, pada masa Kolonial Belanda digolongkan sebagai golongan Timur Asing. Kemudian pada masa Kemerdekaan mereka semuanya dapat diterima apabila mau mengakui Indonesia sebagai tanah airnya, dan mengabdi pada negara R.I yang dapat dianggap sebagai Warga Negara Indonesia. Namun perlakuan diantara mereka terdapat perbedaan. Untuk keturunan Arab, karena agamanya sama dengan yang dipeluk suku bangsa mayoritas Indonesia, maka mereka dianggap "Pri" (Pribumi) atau bahkan “Asli”, sedangkan keturunan Tionghoa, karena agamanya pada umumnya adalah Tri Dharma (Sam Kao), Budis, Nasrani dan lain-lain. Keturunan India yang beragama Hindu dan Belanda yang beragama Nasrani, dianggap “Non Pri”. Dengan stikma "Non Pri" tersebut kedudukan mereka yang bukan “pribumi”, terutama keturunan Tionghoa terasa sekali pendiskriminasiannya.

Hankam
Wakil Ketua Komisi I, Hayono Isman, menyebut Malaysia masih mengintip peluang untuk mengambil blok Ambalat dari Indonesia. Jika Malaysia ngotot, Indonesia harus siap berperang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar